![]() |
| ilustrasi. sumber: |
Di rumah masa kecilku,
tidak jauh dari tempatku tinggal, sekitar 50 meter, ada sebuah rumah tak
berpenghuni yang tidak terlalu besar. Dindingnya dibangun dari batu bata merah
tidak berplester. Kusen jendelanya berwarna putih pucat tanpa kaca dan kain
gorden. Setiap petak ruangannya dibatasi beberapa reruntuhan batu bata,
pecahanya di lantai berserakan dimana-mana. Pintu utama hanya terdiri dari sebuah
lubang persegi panjang tidak mempunyai daun pintu. Tanpa masuk pun, orang-orang dapat melihat
dengan jelas kondisi di dalamnya.
Bagiku dan anak-anak
lainnya di kampung kami, rumah itu seperti taman bermain. Tempat kami menyusun
strategi perang untuk membalas anak laki-laki yang sering menganggu, tempat
bermain petak umpet, rumah-rumahan, tempat kami memelihara kucing-kucing yang
seharusnya dibuang seseorang dan tempatku menemukan bayi tikus berwarna merah
muda yang diam-diam kubawa pulang. Namun
di malam hari, rumah itu menjadi momok menakutkan bagi kami, menjadi alasan
para ibu menakuti anak-anaknya agar mereka segera pulang bermain sebelum
maghrib tiba, karena jika tidak, sesosok mahluk akan keluar dari rumah itu, dan
itu pula menjadi alasanku mengambil rute yang lebih jauh jika berjalan sendirian
pulang ke rumah.
Aku dan anak-anak lainnya
belum pernah bertemu dengan si pemilik rumah, yang kerap namanya disebut oleh para
orang tua kami dengan sebutan Daeng Dade, namun ditelingaku terdengar
orang-orang itu mengatakan ‘Dendade’. Lalu, begitulah kami anak-anak sering
menyebut rumah tersebut, rumah Dendade.
Pulang mengaji setelah
Maghrib selalu merupakan hal paling menggalaukan bagi kami. Bukan karena jarak
surau dan rumah yang jauh, tapi sebahagian dari kami harus pulang melewati
rumah Daeng Dade, itulah masalah terbesarnya.
Maka kami sepakat untuk selalu pulang bersama. Jika sudah mendekati rumah
kosong itu, anak laki-laki melepas sarung dan mengikatnya di pinggang mereka, aku
beserta anak-anak perempuan lainnya mengangkat rok mukena. Bersama-sama kami
melepas sendal masing-masing, bersiap-siap untuk lari sekencang yang kami bisa.
Saat itu menjadi momen mendebarkan bagi kami, ketika melintasi rumah tersebut.
Kadang ada anak lelaki iseng yang juga ikut berlari tiba-tiba berteriak, “Yaaaa, dendeee..!”*
Setelah merasa sudah
cukup jauh dari rumah tersebut, sambil terengah-engah, keluarlah
ungkapan-ungkapan perasaan yang kami rasakan saat melintas di depan rumah Daeng
Dade. Ribut. Biasanya keluar dari mulut anak yang paling cerewet.
“Tadi toh, ada kuliat
bayangan putih disana. Iiihh.. nekkereku* deh!”
Seorang anak dengan napas memburu, matanya melotot meyakinkan kami jika
ia tadi melihat sesuatu yang aneh di rumah itu. Yang jelas, kalaupun terpaksa
memilih untuk melintasi rumah itu, baik bersama ataupun sendirian, kami
sepertinya punya aturan tak tertulis, yaitu beberapa meter sebelumnya, kami
akan selalu melepas sendal agar bisa berlari dengan cepat. Sepanjang ingatanku,
kami melakukan itu selama kami menjadi anak-anak.
Satu hari, sepulang
sekolah aku melihat beberapa buruh bangunan dan mobil-mobil pengangkut pasir
berada di depan rumah Daeng Dade, membuat jalanan sempit di depannya menjadi
sesak. Beberapa warga terutama bapak-bapak banyak yang berkumpul melihat rumah yang
akan dibangun ulang itu. Aku berhenti sebentar memeriksa beberapa wajah yang
berkerumun, mencari sosok yang bernama Daeng Dade. Penasaran seperti apakah
rupanya. Sejak lahir aku dan anak-anak di kampung ini belum pernah sekalipun
melihat wajah pemilik rumah ‘taman bermain’ kami. Walau aku tak punya petunjuk
tentang ciri-cirinya, berharap ada yang
memanggil namanya, lalu seseorang akan menoleh. Tapi tidak ada. Para laki-laki
dewasa itu hanya sibuk berbicara tentang harga pasir, batu bata, bangunan, dan
hal-hal semacam itu.
Akan ada sebuah keluarga
yang menempati rumah Daeng Dade. Ibu bilang, keluarga yang akan menghuni rumah
itu masih keluarga dekatnya. Berita ini kemudian menyebar ke seluruh anak di
kampung kami. Sebentar lagi, kami tak akan punya markas besar. Dimana kami
harus menaruh kucing-kucing peliharaan yang tidak boleh kami pelihara di rumah?
Dimana kami akan menyusun sisa-sisa batu bata itu menjadi sesuatu yang
berbentuk, waktu itu kami belum mengenal permainan lego.
Desas desus bahwa rumah
Daeng Dade sepertinya berhantu diperkuat dengan kepindahan keluarga yang baru
saja menempati rumah itu tidak lama setelah direnovasi. Setidaknya itu yang
kudengar dari teman-temanku. Dalam hitungan bulan, rumah Daeng Dade kembali
kosong. Seingatku, tidak ada seorangpun yang kembali untuk membersihkan rumah
tersebut, padahal setelah diperbaiki, wujud bangunannya benar-benar kembali seperti
rumah mungil yang cocok dihuni untuk keluarga kecil bahagia. Setelah
ditinggalkan beberapa bulan, dinding putihnya berganti warna menjadi hijau
lumut, rumput di halaman kecilnya tumbuh subur, tanaman merambat di pagar
besinya. Aku dan anak-anak lainnya mulai berfikir untuk mengambil alih tempat itu,
namun ada satu hal yang mengganggu kami, penampakan rumah itu jauh terlihat lebih
seram dibandingkan sebelum direnovasi. Hanya beberapa anak yang cukup berani
bermain di halaman rumah itu, tempat yang pas untuk bermain petak umpet.
Hingga puluhan tahun
kemudian, tak pernah sekalipun aku melihat sosok Daeng Dade, aku juga tidak
tahu bagaiman keadaan rumah itu sekarang. Aku sudah tak tinggal lagi di tempat
itu, di saat remaja aku dan ibu harus meninggalkan tempat tinggal kami. Ada
yang mengatakan Daeng Dade berperawakan tinggi besar, perut buncit, kulitnya
coklat, kumis tebal. Tapi, entahlah, penggambaran seperti itu kami dapatkan
dari cerita ibu-ibu kami yang mungkin menurut mereka itu sebuah penggambaran
menakutkan bagi anak-anak agar kami tak ribut bertanya lagi tentang sosoknya.
*Ekpresi/ungkapan
untuk menakuti-nakuti dalam bahasa Bugis Makassar
*Merinding
ketakutan
