Jumat, 13 Juni 2014

Rumah Daeng Dade

ilustrasi. sumber: movinginsider.com
Di rumah masa kecilku, tidak jauh dari tempatku tinggal, sekitar 50 meter, ada sebuah rumah tak berpenghuni yang tidak terlalu besar. Dindingnya dibangun dari batu bata merah tidak berplester. Kusen jendelanya berwarna putih pucat tanpa kaca dan kain gorden. Setiap petak ruangannya dibatasi beberapa reruntuhan batu bata, pecahanya di lantai berserakan dimana-mana. Pintu utama hanya terdiri dari sebuah lubang persegi panjang tidak mempunyai daun pintu.  Tanpa masuk pun, orang-orang dapat melihat dengan jelas kondisi di dalamnya.
Bagiku dan anak-anak lainnya di kampung kami, rumah itu seperti taman bermain. Tempat kami menyusun strategi perang untuk membalas anak laki-laki yang sering menganggu, tempat bermain petak umpet, rumah-rumahan, tempat kami memelihara kucing-kucing yang seharusnya dibuang seseorang dan tempatku menemukan bayi tikus berwarna merah muda yang diam-diam kubawa pulang.   Namun di malam hari, rumah itu menjadi momok menakutkan bagi kami, menjadi alasan para ibu menakuti anak-anaknya agar mereka segera pulang bermain sebelum maghrib tiba, karena jika tidak, sesosok mahluk akan keluar dari rumah itu, dan itu pula menjadi alasanku mengambil rute yang lebih jauh jika berjalan sendirian pulang ke rumah.
Aku dan anak-anak lainnya belum pernah bertemu dengan si pemilik rumah, yang kerap namanya disebut oleh para orang tua kami dengan sebutan Daeng Dade, namun ditelingaku terdengar orang-orang itu mengatakan ‘Dendade’. Lalu, begitulah kami anak-anak sering menyebut rumah tersebut, rumah Dendade.
Pulang mengaji setelah Maghrib selalu merupakan hal paling menggalaukan bagi kami. Bukan karena jarak surau dan rumah yang jauh, tapi sebahagian dari kami harus pulang melewati rumah Daeng Dade,  itulah masalah terbesarnya. Maka kami sepakat untuk selalu pulang bersama. Jika sudah mendekati rumah kosong itu, anak laki-laki melepas sarung dan mengikatnya di pinggang mereka, aku beserta anak-anak perempuan lainnya mengangkat rok mukena. Bersama-sama kami melepas sendal masing-masing, bersiap-siap untuk lari sekencang yang kami bisa. Saat itu menjadi momen mendebarkan bagi kami, ketika melintasi rumah tersebut. Kadang ada anak lelaki iseng yang juga ikut berlari  tiba-tiba berteriak, “Yaaaa, dendeee..!”*
Setelah merasa sudah cukup jauh dari rumah tersebut, sambil terengah-engah, keluarlah ungkapan-ungkapan perasaan yang kami rasakan saat melintas di depan rumah Daeng Dade. Ribut. Biasanya keluar dari mulut anak yang paling cerewet.
“Tadi toh, ada kuliat bayangan putih disana. Iiihh.. nekkereku* deh!”  Seorang anak dengan napas memburu, matanya melotot meyakinkan kami jika ia tadi melihat sesuatu yang aneh di rumah itu. Yang jelas, kalaupun terpaksa memilih untuk melintasi rumah itu, baik bersama ataupun sendirian, kami sepertinya punya aturan tak tertulis, yaitu beberapa meter sebelumnya, kami akan selalu melepas sendal agar bisa berlari dengan cepat. Sepanjang ingatanku, kami melakukan itu selama kami menjadi anak-anak.
Satu hari, sepulang sekolah aku melihat beberapa buruh bangunan dan mobil-mobil pengangkut pasir berada di depan rumah Daeng Dade, membuat jalanan sempit di depannya menjadi sesak. Beberapa warga terutama bapak-bapak banyak yang berkumpul melihat rumah yang akan dibangun ulang itu. Aku berhenti sebentar memeriksa beberapa wajah yang berkerumun, mencari sosok yang bernama Daeng Dade. Penasaran seperti apakah rupanya. Sejak lahir aku dan anak-anak di kampung ini belum pernah sekalipun melihat wajah pemilik rumah ‘taman bermain’ kami. Walau aku tak punya petunjuk tentang ciri-cirinya, berharap ada  yang memanggil namanya, lalu seseorang akan menoleh. Tapi tidak ada. Para laki-laki dewasa itu hanya sibuk berbicara tentang harga pasir, batu bata, bangunan, dan hal-hal semacam itu.     
Akan ada sebuah keluarga yang menempati rumah Daeng Dade. Ibu bilang, keluarga yang akan menghuni rumah itu masih keluarga dekatnya. Berita ini kemudian menyebar ke seluruh anak di kampung kami. Sebentar lagi, kami tak akan punya markas besar. Dimana kami harus menaruh kucing-kucing peliharaan yang tidak boleh kami pelihara di rumah? Dimana kami akan menyusun sisa-sisa batu bata itu menjadi sesuatu yang berbentuk, waktu itu kami belum mengenal permainan lego.
Desas desus bahwa rumah Daeng Dade sepertinya berhantu diperkuat dengan kepindahan keluarga yang baru saja menempati rumah itu tidak lama setelah direnovasi. Setidaknya itu yang kudengar dari teman-temanku. Dalam hitungan bulan, rumah Daeng Dade kembali kosong. Seingatku, tidak ada seorangpun yang kembali untuk membersihkan rumah tersebut, padahal setelah diperbaiki, wujud bangunannya benar-benar kembali seperti rumah mungil yang cocok dihuni untuk keluarga kecil bahagia. Setelah ditinggalkan beberapa bulan, dinding putihnya berganti warna menjadi hijau lumut, rumput di halaman kecilnya tumbuh subur, tanaman merambat di pagar besinya. Aku dan anak-anak lainnya mulai berfikir untuk mengambil alih tempat itu, namun ada satu hal yang mengganggu kami, penampakan rumah itu jauh terlihat lebih seram dibandingkan sebelum direnovasi. Hanya beberapa anak yang cukup berani bermain di halaman rumah itu, tempat yang pas untuk bermain petak umpet.  
Hingga puluhan tahun kemudian, tak pernah sekalipun aku melihat sosok Daeng Dade, aku juga tidak tahu bagaiman keadaan rumah itu sekarang. Aku sudah tak tinggal lagi di tempat itu, di saat remaja aku dan ibu harus meninggalkan tempat tinggal kami. Ada yang mengatakan Daeng Dade berperawakan tinggi besar, perut buncit, kulitnya coklat, kumis tebal. Tapi, entahlah, penggambaran seperti itu kami dapatkan dari cerita ibu-ibu kami yang mungkin menurut mereka itu sebuah penggambaran menakutkan bagi anak-anak agar kami tak ribut bertanya lagi tentang sosoknya.

*Ekpresi/ungkapan untuk menakuti-nakuti dalam bahasa Bugis Makassar
*Merinding ketakutan


top