Sabtu, 10 Mei 2014

Napak Tilas

     
sumber: koransindo.com

     Lepas Maghrib, aku tiba di Makassar, sampai di rumah lalu melahap menu pesananku pada ibu. Aku makan dengan lahap, makanan sederhana yang selalu aku rindukan jika aku di perantauan: Nasi putih, sayur bening, ikan mairo goreng, cobe-cobe terasi, dan plus raca-raca mangga, menu favorit yang terakhir ini, tak terduga.
    Esok siangnya, aku dan ibu mengunjungi nenek yang baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang berada di rumah adik ayahku. Aku memperhatikan barang dagangan tanteku yang masih selamat dari kebakaran pasar sentral, landmark kota Makassar yang akhir-akhir ini sering terjadi kebakaran, entah apa sebabnya kebakaran begitu sering terjadi di pasar itu belakangan ini.
    Aku dan ibu berencana pulang selepas ashar, tapi karena baju-baju dagangan itu terlalu sayang dilewatkan, jadilah kami sibuk memilih-milih hingga Magrib tiba. Setelah itu, aku pulang dengan ibu yang membawa dua baju hasil pilihannya. Kata ibu, sekaligus membantu tanteku yang mendapat musibah. Benar juga, tadi tanteku senang barang dagangannya terbeli oleh ibu.
      Malam di Kota Makassar saat perjalanan pulang ke rumah bagiku seperti napak tilas. Jarak antara rumah tanteku dan rumah kami terbilang jauh, jadi aku punya cukup waktu memutar lagu berjudul Pulang milik band indie Float di music player di smart phoneku.  Lagu itu terus berulang-ulang terputar, sembari aku memandangi kota Makassar dari balik jendela pete-pete.
        Kami melewati perempatan di jalan Landak Baru, tiba-tiba aku melihat bayangan diriku dua tahun lalu di pinggir jalan memakai ransel dengan tas mungil yang kugantung di bahu kananku, sedang menunggu sendirian selama lebih hampir dua jam pete-pete dengan nomor 02 untuk membawaku pulang ke rumah saat aku masih bekerja sebagai penyiar radio. Pulang malam menjadi kebiasaan setelah siaran, padahal jarak rumah dan studio agak jauh, belum lagi angkutan umum bernomor 02 itu sudah langka ketika hari menuju malam di Makassar. Tapi apa boleh buat, jam siaranku baru selesai setelah sholat maghrib.
       Pete-pete yang kutumpangi lalu melewati jembatan penyebarangan di jalan Pettarani, di jembatan itu, mundur dua tahun lagi, tepatnya empat tahun lalu aku duduk di tangganya menertawai diri sendiri setelah mendatangai kantor sebuah bank BUMN untuk melamar pekerjaan dan aku baru tahu saat sudah masuk ke kantor tersebut, pekerjaan yang ditawarkan membutuhkan tinggi badan minimal. Aku tidak berfikir saat itu jika posisi yang kulamar membutuhkan syarat tinggi badan karena kupikir tidak ada hubungannya, lagipula pengumumannya di koran waktu itu tidak mencamtumkan syarat tersebut. Tapi ya, sudahlah.
       Pete-pete kami lalu melewati Graha Pena, aku lalu melihat diriku berdiri di pinggir jalan di jam 10 malam lewat, sehabis menghadiri acara penghargaan KPID, menanti dengan mengantuk pete-pete BTP yang tak kunjung lewat. Dan aku melihat masih banyak diriku yang berdiri dengan berbagai macam ekspresi di pinggir jalan itu.

   Kadang aku membenci kota ini, namun lebih sering aku sangat mencintainya dengan segala kekurangannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

top