![]() |
| sumber: koransindo.com |
Lepas Maghrib, aku tiba di Makassar, sampai di rumah lalu melahap menu pesananku pada ibu. Aku makan dengan lahap, makanan sederhana yang selalu aku rindukan jika aku di perantauan: Nasi putih, sayur bening, ikan mairo goreng, cobe-cobe terasi, dan plus raca-raca mangga, menu favorit yang terakhir ini, tak terduga.
Esok siangnya, aku dan ibu
mengunjungi nenek yang baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang berada di
rumah adik ayahku. Aku memperhatikan barang dagangan tanteku yang masih selamat
dari kebakaran pasar sentral, landmark kota Makassar yang akhir-akhir ini
sering terjadi kebakaran, entah apa sebabnya kebakaran begitu sering terjadi di
pasar itu belakangan ini.
Aku dan ibu berencana pulang selepas ashar, tapi karena baju-baju dagangan itu terlalu sayang dilewatkan, jadilah kami sibuk memilih-milih hingga Magrib tiba. Setelah itu, aku pulang dengan ibu yang membawa dua baju hasil pilihannya. Kata ibu, sekaligus membantu tanteku yang mendapat musibah. Benar juga, tadi tanteku senang barang dagangannya terbeli oleh ibu.
Aku dan ibu berencana pulang selepas ashar, tapi karena baju-baju dagangan itu terlalu sayang dilewatkan, jadilah kami sibuk memilih-milih hingga Magrib tiba. Setelah itu, aku pulang dengan ibu yang membawa dua baju hasil pilihannya. Kata ibu, sekaligus membantu tanteku yang mendapat musibah. Benar juga, tadi tanteku senang barang dagangannya terbeli oleh ibu.
Malam di Kota Makassar saat
perjalanan pulang ke rumah bagiku seperti napak tilas. Jarak antara rumah
tanteku dan rumah kami terbilang jauh, jadi aku punya cukup waktu memutar lagu
berjudul Pulang milik band indie Float di music player di smart phoneku. Lagu itu terus berulang-ulang terputar,
sembari aku memandangi kota Makassar dari balik jendela pete-pete.
Kami melewati perempatan di jalan
Landak Baru, tiba-tiba aku melihat bayangan diriku dua tahun lalu di pinggir
jalan memakai ransel dengan tas mungil yang kugantung di bahu kananku, sedang
menunggu sendirian selama lebih hampir dua jam pete-pete dengan nomor 02 untuk
membawaku pulang ke rumah saat aku masih bekerja sebagai penyiar radio. Pulang
malam menjadi kebiasaan setelah siaran, padahal jarak rumah dan studio agak
jauh, belum lagi angkutan umum bernomor 02 itu sudah langka ketika hari menuju
malam di Makassar. Tapi apa boleh buat, jam siaranku baru selesai setelah
sholat maghrib.
Pete-pete yang kutumpangi lalu
melewati jembatan penyebarangan di jalan Pettarani, di jembatan itu, mundur dua
tahun lagi, tepatnya empat tahun lalu aku duduk di tangganya menertawai diri
sendiri setelah mendatangai kantor sebuah bank BUMN untuk melamar pekerjaan dan
aku baru tahu saat sudah masuk ke kantor tersebut, pekerjaan yang ditawarkan membutuhkan
tinggi badan minimal. Aku tidak berfikir saat itu jika posisi yang kulamar
membutuhkan syarat tinggi badan karena kupikir tidak ada hubungannya, lagipula
pengumumannya di koran waktu itu tidak mencamtumkan syarat tersebut. Tapi ya,
sudahlah.
Pete-pete kami lalu melewati Graha
Pena, aku lalu melihat diriku berdiri di pinggir jalan di jam 10 malam lewat,
sehabis menghadiri acara penghargaan KPID, menanti dengan mengantuk pete-pete
BTP yang tak kunjung lewat. Dan aku melihat masih banyak diriku
yang berdiri dengan berbagai macam ekspresi di pinggir jalan itu.
Kadang aku membenci kota ini, namun
lebih sering aku sangat mencintainya dengan segala kekurangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar