Malam Jumat dan hari ini adalah hari ketiga listrik padam. Aku
dan Nita alias Nitnot, sahabatku yang sering menjarah makanan dan numpang molor di kamar kosku, mati gaya dan
mencari cara baru untuk mengisi waktu luang kami sampai lampu menyala kembali. Tidak
ada satupun gadget kami yang menyala, semuanya low batt. Benar-benar hopeless.
Hari pertama listrik padam, kami mengisi waktu dengan lomba
makan cabe rawit. Duduk bersila saling berhadapan, di depan kami masing-masing
sepiring cabe rawit warna hijau dan merah. Aturan permainan adalah makan cabe
rawit sebanyak mungkin, dengan ekspresi wajah kegirangan sambil ngobrol ngalor
ngidul kayak orang normal, jika ada yang
menunjukkan ekpresi kepedisan sedikiit saja, maka ia dinyatakan kalah. Lilin
besar dinyalakan di tengah-tengah ruangan agar bisa melihat jelas wajah
pesaing. Di saat cabe yang ke 16, aku mulai merasakan panas di mulut, perut merasakan
gejala yang tidak enak, sepertinya cacing-cacing di dalamnya merasa udah kayak
di neraka. Walau hanya pelan, seperti berbisik, tiba-tiba saja keluar suara,
“Ssshh..” Ups! Aku kalah sodara-sodara. Setelah merasa dirinya menang, seperti
orang kesurupan, Nitnot menyambar sebotol air, “Huaaa.., huaaa..., huaa..!!”
kedua tangannya dipukul-pukul ke dada. Tahu kan, jadinya mirip siapa?
Hari kedua, aku bersyukur listrik padam, kenapa? Setelah magrib,
ibu kos datang menagih uang kos. Kalau sampai si Ibu kos tahu, aku sedang menyelendupkan
Gorilla, eh, Nitnot di kamar, pasti bakal dikenai biaya tambahan. Jadilah kami,
hanya duduk diam dalam gelap, di kamar, tanpa menyalakan lilin, tanpa bicara,
hanya menggunakan bahasa manusia gua.
“Laper,” Nitnot berbisik lemah, entah karena takut ketahuan ibu
kos atau memang ia lapar berat.
“Ada cemilan tuh, tapi jangan dihabisin.” Jawabku dengan suara
sepelan mungkin, tapi kalimat terakhir sengaja volumenya dinaikkan.
Pelan-pelan, Nitnot mencoba meraih kantong kresek yang kutaruh
di bawah tempat tidur, dimana aku menimbun logistik tiap awal bulan dan
menyisakan cemilan-cemilan untuk akhir bulan.
Srrtt...
“Bilangin pelan-pelan, Not! Ibu kos masih di luar tuh!”
Nitnot pelan-pelan menarik kantong plastik dari kolong tempat
tidur, setiap kali menimbulkan keributan, kucubit pelan lengannya.
“Apa nih? Enak banget.”
“Mister Potato.”
“Kalau yang bulet-bulet kayak cincin ini?”
“Smax Ring.”
“Enyak, enyak, enyak!” Ucapnya sok imut.
Ingin rasanya kujitak kepalanya, dia membuka semua persediaan
cemilanku, tapi khawatir dia malah teriak dan itu artinya keselamatanku
terancam.
* * *
Well, ini sudah hari ketiga, kita berdua bingung mau melakukan apa.
Rasa-rasanya mau melakukan lomba bego kayak ngemil
cabe dengan ekspresi wajah girang sudah gak mungkin, persediaan cabe
menipis.
“Bener-bener dah nih PLN, kemarin biaya listrik naik, eh
bukannya pelayanan tambah oke, malah padam mulu. Aarrggh.” Aku selalu berasa
seperti emak-emak kalau sudah ngomel kayak gitu.
“Menghayal aja, yuk!” celetuk Nitnot.
“Wow! Ide lo emejing! Kenapa gak dari kemarin-kemarin lo
bilang??” Teriakku dengan gaya pura-pura
tertarik. Lagipula aku tidak mau menatap wajah anak ini lama-lama. Suasana
remang-remang+wajah Nitnot= Horor.
“Heuheuh, daripada gak ngapa-ngapain. Tenaang, gua udah beli
cemilan.” Nitnot mengeluarkan dua bungkus cemilan dari dalam tas kainnya yang sudah
mulai sobek dibagian bawahnya. Hmm, bulan
depan kalo dia ulang tahun, gue mau ngasih hadiah tas yang bahannya kuat,
supaya dipakainya awet. Janjiku pada diri sendiri.
“Lo mau ngayalin apa?” Ngayal jadi langsing? Hihihi.”
“Heuheuh...Gue mau ngayal terbang ke Inggris.”
“Ahh, itu lagi-itu lagi. Boseen..”
Nitnot tergila-gila ingin ke Inggris. Tiap ada kesempatan, dia
selalu menceritakan impiannya kesana, sampai terkadang capek hanya dengan mendengarkan
dia.
“Lo tau
kan, Ra, kalo di Inggris sana sistem pemerintahannya Monarki Konstitusional?”
“Hmm..”
“Ra, lo tau kan kalo
orang Inggris itu seneeeng banget minum teh?”
“Hmm..”
“Lo tau gak kalo jam gede
yang ada di Inggris itu, sebenernya namanya bukan Big Ben, tapi The Tower Clock.
Loncengnya itu yang namanya Big Ben.”
“Hmm..”
“Eh tahu gak sih? Kalau Istana Buckingham
pernah dianggap sama leluhurnya Ratu Victoria, yang namanya William IV, kalo
tempat itu terlalu kumuh.”
“Hmm..”
“Lo tahu gak kalo katanya istana Buckingham itu dulunya rumah
bordil?” “Hmm.., heh? hah??!”
“Entahlah itu bener apa
gak, tapi emang pernah dengar sih. Perlu dicek lagi kebetulannya.”
“Kebenarannya, dudul!”
“Heuheu, iyaa...Eh, tau gak kalo London Eye
tingginya sampe 135 meter?”
Zzzz...Ngrookk...
* * *
Pembicaraan semacam ini tiap hari yang aku dengar dari Nitnot. Di
kamar kosnya yang kumuh dan sempit, setumpuk profil universitas-universitas di
Inggris ada di setiap sudut kamarnya, yang dia kumpulkan dari berbagai macam
pameran pendidikan. Rak bukunya didominasi oleh novel-novel kisah Sherlock
Homes. Dia tergila-gila sama tokoh yang satu itu. Ia seorang Sherlockian, fans
fanatik Sherclock Holmes. Dia pernah berharap pemerintah bisa membuka sekolah
detektif yang keren. Dia ingin melamar jadi staf pengajar. Ahh, nih anak
ada-ada aja.
Di dinding kamar yang catnya sudah terkelupas banyak ditempeli
gambar-gambar ikon negara Inggris. Ada poster Big Ben, Istana Buckingham, Jembatan
Menara, Sungai Thames, tokoh-tokoh terkenal mulai dari Ratu Elizabeth, Sherlock
Holmes dan rekannya Dr. Watson, sampai wajah konyol Mr. Bean juga ada. Di
dinding kepala tempat tidurnya ada peta dunia ukuran sedang. Negara Inggris diberi
bulatan dengan spidol merah, di atas bulatan itu digambari panah tipis dengan
tulisan “My Dream”.
“Biar hanya gambarnya aja dulu gue kumpulin, Ra. Anggap aja doa,
heuheuh..” Begitu katanya waktu aku mengomentari kamarnya yang sudah seperti
museum Inggris.
* * *
“Nah, lo baring sini, terus kita menghayal kita lagi ada di
Inggris.” Nitnot menepuk-nepuk kasur tipis yang sudah ia keluarkan dari lemari,
kasur yang sering ia gunakan sebagai alas tidur jika menginap di kamar kosku.
Aku menurut katanya, kubaringkan badanku, dan Nitnot ikut rebahan di sampingku.
Dua bungkus cemilan, Mister Potato ia berikan padaku dan Smax Ring untuk
dirinya.
“Ntar, kalo gue beneran nyampe di Inggris, lo tau apa aja yang
bakal gue lakuiin?” tanya Nitnot padaku dengan posisi wajahya menghadap ke langit-langit kamar.
“Gak tahu. Kriukk.., kriukk..” Jawabku cuek sambil mengunyah satu demi satu
isi dari Mister Potato.
“Pertama, gue akan nyium lantai di bandara, trus lari-lari
tereak ‘Gua nyampe Inggrisss! Gue di negaranya Sherlock Holmes! Gue
berhasiiilll’ dan salamin orang satu persatu yang ada di dekat gue.
Kriukk.., kriukk..”
Kupalingkan wajahku kearahnya dengan ekspresi keheranan.
“Heuheuhe, enggaklah! Norak amat yak! Kriukk.., kriukk. Gue akan menyusuri
Buckingham Palace Road dulu, jalan terus tanpa tujuan, kepingin merasakan
suasana kota dan pedestriannya yang lebar dan sepi. Oh ya, ngeliat momen
‘Changing The Guard’ juga. Kriukk.., kriukk. Terus melewati St. James Park yang
indah menuju Parliament House dan
berdiri di pinggir Sungai Thames, gue
akan teriak manggil nama ibu, adik-adik gue dan juga lo disitu.
“Lo kata itu di Pantai??”
“Heuheuheu...Kriukk.., kriukk...”
“Terus gue ke Trafalgar Square yang rame banget, duduk rapih ama turis-turis asing, dengerin macam-macam
bahasa, kayak Perancis, Italia, Jerman, Jepang, Arab ampe bahasa yang gak gue
kenal, juga denger aksen British yang medok
itu, heuheuh dan pastinya foto-foto di bawah Nelson’s Column. Gue juga mau naik
London Eye. Kriukk.., kriukk...”
![]() |
| Duduk bersama turis-turis asing. Sumber: telegraph.co.uk |
“Lha? Bukannya lo paling gak berani ama ketinggian?”
“Bodo amat, yang penting naik! Naik pesawat ke Inggris aja
gue berani, apalagi kalo cuman London Eye?” Wajahnya menoleh ke wajahku dengan
mata melotot.
“Nyantai cyiin. Hahah.., lo kayak udah dari sono aja!”
“Heuheuh, yaa, namanya juga ngayal, Raa. Tapi kalo bener-bener
gue ke Inggris, gue rela latihan ngadepin fobia gue.”
“Hmm, bagus, bagus. Ya udah, besok lo jemur semua pakaian,
termasuk punya gue di lantai lima kosan ini. Lo berdiri sambil liat ke bawah
selama tiga jam.”
“Tiga jam? Lama bener?”
“Iya, harus itu! Kriukk.., kriukk.”
Nitnot kembali memandangi langit-langit kamar dan melanjutkan
ceritanya.
“Bagian terbaiknya adalah gue menuju ke 221b Baker Street, supaya
lebih greget sambil muter musik The Adventure of Sherlock Holmes, berdiri lama di depan museum Sherlock Holmes,
minta orang-orang situ cubitin lengan gue untuk ngebuktiin gue lagi gak
menghayal, kayak sekarang ini, heuheuh. Gue mau difoto sambil nunjukin kertas
karton putih gede, pake tulisan ‘Siti Anita Yusuf Sholehah was here’.”
![]() |
| sumber : http://public.media.smithsonianmag.com/ |
![]() |
| sumber: http://public.media.smithsonianmag.com/ |
“Hahaha..!” kita tertawa bareng.
“Trus, oleh-oleh buat gue apa?”
“Ntar, gue bawaiin gantungan kunci.”
“Heh? Gitu doank?”
“Huum.”
“Aah, payah.., masa lo jauh-jauh ke Inggris cuman bawaiin
gantungan kunci?”
“Lha trus apaan?”
“Elo mesti goyang ala Fergie yang ada di video klipnya London
Bridge, lo goyang di depan tentara penjaga Istana Buckingam, trus lo rekam,
hahaha..”
“Serius lo?”
“Yep!”
“Ogaah..!”
“Gak apa-apa, Not. Bentar doank.”
“Ihh..emooooh.”
“Yee.., ini khayalan gue,
suka-suka gue donk mau ngapain.”
Sejenak ada hening di antara kami.
“Huahahahaa...” Meledaklah tawa kami berdua.
“Kok
kita jadinya bertengkar, Ra? Ini kan khayalan doank.”
“Hihihi...”
Tapi dalam hati aku berharap mudah-mudahan ada malaikat yang
lewat dan bareng-bareng mengaminkan impian sahabatku yang gendut, lucu, sabar,
punya ketawa aneh dan selalu optimis ini. Melihat perjuangannya dan kegilaannya tentang Sherlock Holmes dan
Inggris, ia sangat pantas mendapatkan impiannya.
“Ra, kita ganti topik aja deh. Lo ada ide?”
“Hmm.., tutup mata trus lo ngebayangin kita lagi tiduran di
bawah langit yang jerniiih banget, bintang-bintangnya banyak.”
Nitnot langsung menutup matanya dan mulailah kami menghayal berbaring
di pantai dengan suara ombak
yang menabrak tebing, langit di atas kami jaraknya terasa dekat sekali ke
wajah.
“Liat, Ra banyak banget
bintang-bintangnya? Indahnyaa.” Nitnot memulai pembicaraan dengan serius.
“Huum. Cantiiiik..”
“Liat tuh ada bintang yang paling besar, di sana. Gilaaa, keren
bangeettt?”
“Mana?”
“Itu tuh, di sana!”
“Oh, iya! Yang sebelah kanan itu kan?”
“Huum..,wuih, cantiknya. Ada bunga-bunganya juga.”
???
“Hmm..bunga-bunganya cantik, warna warniii.”
???!
“Mana ada bunga-bungaan
numbuh di langit???” Aku berkata dalam hati.
“Liat! Banyak pohon-pohon juga! Waaah, bagusnya!”
“Wah, udah gak benar
nih!” Cepat-cepat kubuka mataku dan membuyarkan
lamunan Nitnot sebelum dia melihat ada sapi lagi makan rumput di langit.






